Showing posts with label Kolam Sidat. Show all posts
Showing posts with label Kolam Sidat. Show all posts

Wednesday, November 28, 2012

Contoh Kolam Sidat

Kolam Fiberglass:



Kolam Terpal:

Kolam Tembok:

Kolam Tanah:

Jaring Apung:

Aquarium:















Friday, November 16, 2012

Pemeliharaan dan Pengelolaan Bak Beton / Tembok Budidaya Ikan

Wadah budidaya ikan dari bak tembok atau bak beton yang akan digunakan untuk budidaya ikan harus dilakukan persiapan wadah sebelum dipergunakan untuk melakukan kegiatan budidaya. Persiapan wadah bak budidaya ikan bertujuan untuk mengkondisikan wadah agar dapat digunakan secara efesien dan memenuhi persyaratan lingkungan yang optimal, sehingga ikan dapat hidup dengan laju pertumbuhan yang optimum. Persiapan bak budidaya ikan meliputi:

1. Sanitasi wadah bak budidaya ikan
Wadah yang akan digunakan untuk budidaya ikan (bak) sebelum digunakan dibersihkan dari kotoran yang menempel, agar tidak terdapat sisa-sisa kotoran yang dapat menyebabkan pembawa penyakit.

Bahan yang digunakan untuk membersihkan wadah bak budidaya ikan dan merupakan desinfektan antara lain lain adalah Chlorin 200 ppm, Malachite green 100 ppm, Formalin 25 ppm dan alkohol 70%. Wadah yang akan dipergunakan setelah disikat, dibersihkan dan diberi desinfektan kemudian dibersihkan kembali dan wadah tersebut dibiarkan kering udara agar bahan beracun tersebut telah hilang menguap. Setelah dilakukan sanitasi diisi dengan air untuk memeriksa kebocoran bak.
Sanitasi bak budidaya ikan

2. Perbaikan wadah bak budidaya ikan
Sebelum wadah digunakan dilakukan pemeriksaan apakah bak tersebut siap untuk digunakan untuk budidaya ikan. Pemeriksaan bertujuan untuk mengetahui apakah bak budidaya ikan yang akan digunakan mengalami kerusakan baik karena kebocoran dasar dan dinding bak maupun karena adanya kebocoran pada pipa pengeluaran dan pemasukan. Oleh karena itu kerusakan tersebut harus diperbaiki dahulu sebelum digunakan. 

Bahan untuk memperbaiki kebocoran bak dapat berupa resin serat kaca untuk bak yang terbuat dari serat fiber, semen atau lem khusus untuk beton untuk bak yang terbuat dari beton, bila bak budidaya ikan yang akan digunakan terbuat dari plastik maka dapat digunakan selotip tahan air untuk menutupi kebocoran wadah budidaya. Setelah kerusakan diperbaiki maka bak harus dibiarkan beberapa hari agar bahan tersebut telah kering dan tidak membahayakan ikan yang akan dibudidayakan.

3. Perbaikan instalasi udara bak budidaya ikan
Pada wadah budidaya ikan yang menggunakan bak biasanya menggunakan alat bantu untuk meningkatkan kelarutan oksigen didalam wadah budidaya dengan menggunakan aerator ataupun blower. Oleh karena itu harus dilakukan pemeriksaan terhadap peralatan tersebut. Instalasi perawatab bak budidaya ikan udara terdiri dari pompa udara, penyaring udara, pipa penyalur, batu aerasi dan alat pengatur banyaknya aliran udara (kran).

Peralatan ini sering mengalami kebocoran pada pipa dan penyumbatan pada batu aerasi. Ganti atau perbaiki peralatan yang rusak dan tidak berfungsi lagi. Pompa udara merupakan alat yang paling penting pada proses budidaya ikan di bak karena banyaknya pengudaraan pada air media tergantung dari kekuatan pompa yang ada. Oleh karena itu pompa yang yang telah lemah harus segera diperbaiki, karena dapat berakibat fatal bagi ikan bila terhentinya aliran udara dalam waktu lama.

4. Perbaikan instalasi air bak budidaya ikan
Pada budidaya ikan menggunakan wadah bak biasanya tidak mempunyai pipa pemasukan air seperti dikolam, pada bak pintu pemasukkan air merupakan kran air yang dimasukkan kedalam bak budidaya ikan . Sumber air yang digunakan dapat berasal dari mata air atau dari sumur yang dipompakan ke bak-bak melalui pipa pengaturan. 

Kebocoran sering terjadi pada pipa penyaluran dan kran pengatur aliran. Air harus tetap tersedia karena untuk keperluan pergantian air pada media pemeliharaan ikan pada bak budidaya . Sedangkan pintu pengeluarannya berupa pipa yang terbuat dari pipa PVC dalam bentuk L atau lurus. Pintu pengeluaran air ini harus diperiksa apakah terjadi penyumbatan pada saluran pembuangannya.

Persiapan wadah budidaya ikan yang menggunakan akuarium tidak jauh berbeda dengan penggunaan bak.

Wednesday, November 14, 2012

Cara membuat Kolam dari Terpal

Kolam Terpal
Membaca tulisan ”Kolam Terpal” pasti akan terbayang bahwa yang dimaksud adalah bentuk kolam yang terbuat dari bahan terpal. Dan memang seperti itulah kolam terpal yaitu kolam yang terbuat dari terpal yang tidak tembus air. 

Kolam terpal dapat digunakan untuk pemeliharaan ikan, tanaman air, penampung air, dll. Jika dibandingkan dengan kolam semen yang pasti kolam terpal ini sangat murah dari sisi harganya, sangat mudah dan cepat dalam pemasangannya. 

Kolam terpal dapat dipakai hingga 2thn bahkan lebih. Tergantung pemakaian. Berdasarkan pengalaman saya bahkan hingga 3 thn kolam terpal tetap kuat dan dapat terus digunakan.
Untuk pemasangan kolam terpal pada lantai yang tidak berupa tanah/plesteran/ubin terlebih dahulu harus dibuat rangka kolam. Rangka kolam ini dapat terbuat dari besi berlubang, besi berongga, kayu atau bambu. Selanjutnya kolam terpal di letakan di dalam rangka yang sudah dibuat.
Rangka Kolam Terpal dari Kayu

Rangka Kolam Terpal dari Bambu

Rangka Kolam Terpal dari Besi

Untuk pemasangan kolam terpal pada lantai yang berupa tanah dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut :
  • Terlebih dahulu dibuat rangka kolam dengan cara memasang tiang-tiang penahan yang terbuat dari bambu/kayu kaso dimana tiang tersebut ditancapkan kedalam tanah dengan cara di cor agar kuat dan agar tiang tidak mudah lapuk.
  • Dibuat pagar bambu/kayu untuk menahan tiap sisi-sisi kolam.
  • Selanjutnya alasi lantai sebelum kolam diletakan. Tujuannya adalah untuk menghindari keberadaan benda-benda tajam pada lantai yang dapat merusak kolam terpal. Untuk alas dapat menggunakan karpet, sekam padi, dll.
  • Setelah itu kolam dimasukan kedalam rangka kolam yang sudah di buat dan ikatkan pada rangka kolam.

Masalah yang sering ditemukan pada kolam terpal adalah kebocoran akibat robek pada tiap lipatan dan akibat gigitan tikus. Untuk memperbaiki kolam yang robek dapat menggunakan lem aibon. Dilakukan dengan cara sebagai berikut :
  • Keringkan kolam terpal
  • Amplas pada sisi-sisi bagian yang bocor lalu oleskan lem
  • Siapkan sepotong terpal untuk menambal bagian yang bocor, amplas dan kemudian oleskan lem
  • Biarkan selama 5 menit
  • Tempelkan sepotong terpal tadi pada bagian yang bocor
  • Setelah 1 jam kolam sudah dapat digunakan kembali

sumber: http://www.selviquarium.com/kolamterpal.htm

Saturday, November 3, 2012

Pengelolaan Kolam Budidaya Ikan


Dalam membudidayakan ikan dengan menggunakan kolam yang biasanya dilakukan untuk melakukan budidaya ikan air tawar, harus dilakukan persiapan kolam agar dapat dipergunakan untuk membudidayakan ikan. Persiapan kolam meliputi pengeringan kolam, perbaikan pematang, pengolahan dasar kolam, perbaikan saluran pemasukan dan pengeluaran air, pemupukan dan pengapuran. Untuk lebih jelasnya akan diuraikan tahapan-tahapan yang harus dilakukan meliputi :

1. Pengeringan kolam budidaya ikan
Pengeringan dasar kolam sangat dibutuhkan oleh ikan agar bakteri pembusuk yang dapat menyebabkan ikan sakit, racun sisa dekomposisi selama budidaya terbuang. Pada kolam pemijahan budidaya ikan pengeringan dasar kolam bertujuan agar ikan dapat memijah karena tanah yang dikeringkan dan diairi akan melepaskan bau tertentu yang disebut petrichor, selain itu pengeringan dasar kolam dapat membunuh hama dan penyakit yang ada di dalam kolam 
Pengeringan dasar kolam budidaya ikan
2. Perbaikan pematang kolam budidaya ikan
Perbaikan pematang bertujuan untuk mencegah kebocoran kolam. Kebocoran kolam dapat diakibatkan oleh binatang air seperti belut, kepiting dan hewan air lainnya. Pematang kolam budidaya ikan bocor mengakibatkan air kolam tidak stabil dan benih ikan banyak yang keluar kolam. Perbaikan pematang ini hanya dilakukan pada kolam tanah, sedangkan pada kolam tembok dilakukan perawatan dan pengecekan kebocoran pada setiap bagian pematang.

3. Pengolahan dasar kolam budidaya ikan
Pengolahan dasar kolam dilakukan pada kolam tradisional dan kolam semi intensif dimana dasar kolam berupa tanah. Pengolahan dasar kolam dilakukan dengan mencangkul dasar kolam sedalam 10 – 20 cm. Tanah tersebut dibalik dan dibiarkan kering sampai 3-5 hari.

Tujuan pengolahan dasar kolam adalah mempercepat berlangsungnya proses dekomposisi (penguraian) senyawa-senyawa organik dalam tanah sehingga senyawa senyawa yang beracun yang terdapat di dasar kolam budidaya ikan akan menguap. Tanah yang baru dicangkul diratakan. Setelah dasar kolam rata, lalu dibuat saluran ditengah kolam. Saluran ini disebut kemalir. Kemalir berfungsi untuk memudahkan pemanenan dan sebagai tempat berlindung benih ikan pada siang hari. Saluran pemasukan dan pengeluaran air dilengkapi dengan saringan. Tujuannya untuk menjaga agar tidak ada hama yang masuk ke dalam kolam dan benih ikan budidaya yang ditebarkan tidak kabur atau keluar kolam.
Pengolahan tanah dasar kolam budidaya ikan
4. Pengapuran kolam budidaya ikan.
Pengapuran dasar kolam sebaiknya dilakukan setelah pengolahan tanah. Pada saat tanah dibalikkan dan sambil menunggu kering tanah dasar, penebaran kapur dapat dilakukan. Pengapuran merupakan salah satu upaya untuk mempertahankan kestabilan keasaman (pH) tanah dan air, sekaligus memberantas hama penyakit dalam kolam budidaya ikan. Jenis kapur yang digunakan untuk pengapuran kolam ada beberapa macam diantaranya adalah kapur pertanian, yaitu kapur carbonat : CaCO3 atau [CaMg(CO3)]2, dan kapur tohor / kapur aktif (CaO).

Kapur pertanian yang biasa digunakan adalah kapur karbonat yaitu kapur yang bahannya dari batuan kapur tanpa lewat proses pembakaran tapi langsung digiling. Kapur pertanian ada dua yaitu Kalsit dan Dolomit. Kalsit bahan bakunya lebih banyak mengandung karbonat, magnesiumnya sedikit (CaCO3), sedangkan dolomit bahan bakunya banyak mengandung kalsium karbonat dan magnesium karbonat [CaMg(CO3)]2, Dolomit merupakan kapur karbonat yang dimanfaatkan untuk mengapur lahan  kolam budidaya ikan bertanah masam. Kapur tohor adalah kapur yang pembuatannya lewat proses pembakaran. Kapur ini dikenal dengan nama kapur sirih, bahannya adalah batuan tohor dari gunung dan kulit kerang.

Dosis kapur yang akan ditebarkan harus tepat ukurannya karena jika berlebihan kapur akan menyebabkan kolam tidak subur, sedangkan bila kekurangan kapur dalam kolam akan menyebabkan tanah dasar kolam menjadi masam. Sebagai acuan dalam memberikan kapur pada kolam budidaya ikan dapat dilihat pada Tabel 2.5. Tetapi ada juga para petani menggunakan dosis kapur berkisar antara 100 - 200gram/m2 hal ini dilakukan bergantung kepada keasaman tanah kolam.
Dosis kapur Tohor (CaO) menurut jenis tanah dan macam kolam dengan luas 100 meterpersegi
 5. Pemupukan kolam budidaya ikan.
Pemupukan tanah dasar kolam bertujuan untuk meningkatkan kesuburan kolam, memperbaiki struktur tanah dan menghambat peresapan air pada tanah-tanah yang porous serta menumbuhkan phytoplankton dan zooplankton yang digunakan sebagai pakan alami benih ikan dalam kolam budidaya ikan. Jenis pupuk yang biasa digunakan adalah pupuk kandang dan pupuk buatan. Pupuk kandang adalah pupuk yang berasal dari kotoran ternak besar (sapi, kerbau, kuda dan lain-lain) atau kotoran unggas (ayam, itik dan lain-lain) yang telah dikeringkan.

Sedangkan pupuk buatan berupa bahan-bahan kimia yang dibuat manusia dipabrik pupuk yang berguna untuk menyuburkan tanah. Jenis pupuk buatan yang dapat digunakan antara lain adalah pupuk nitrogen (urea, ZA), pupuk phosphor (TSP), pupuk kalium (KCl) dan pupuk NPK yang merupakan gabungan dari ketiga hara tunggal. Dosis pupuk kandang juga bergantung kepada kesuburan kolam ikan, biasanya berkisar antara 100-150 gram/m2 sedangkan untuk kolam budidaya ikan yang kurang kesuburannya dapat ditebarkan kotoran ayam sebanyak 300 – 500 gr/m2 . 

Dosis yang digunakan untuk pupuk buatan biasanya berkisar antara 200-300 gram/m2. Kolam dapat juga dipupuk menggunakan, TSP dan Urea masing-masing sebanyak 10 gr/m2 dan kapur pertanian sebanyak 25 – 30 gr/ m2 atau disesuaikan dengan tingkat kesuburan lahan budidaya ikan.

6. Pengairan kolam budidaya ikan
Kolam yang telah dikeringkan, dikapur dan di pupuk tersebut lalu diairi agar pakan alami di kolam tersebut tumbuh dengan subur. Pengairan ini harus dilakukan minimal 4 –7 hari sebelum larva/benih ikan di tebar ke dalam kolam pemeliharaan budidaya ikan agar pakan alami tumbuh dengan sempurna. Ketinggian air di kolam ikan ini bergantung pada jenis kolam, untuk kolam pemijahan ketinggian air 0,75-1,00 m, kolam pemeliharaan 1-1,25 m.
Mengairi kolam Wadah budidaya ikan (kolam) yang sudah dipersiapkan dan siap untuk dipergunakan sebagai wadah untuk kegiatan budidaya.

Agar kolam budidaya ikan yang dipergunakan senantiasa baik untuk kegiatan budidaya maka harus selalu dilakukan pengelolaan terhadap kolam budidaya baik kolam pemeliharaan, pemijahan, penetasan telur dan lain sebagainya. 

sumber: http://www.sentra-edukasi.com

Thursday, October 25, 2012

Sidat Besar di Hapa


Ini yang dilakukan Budi Setiawan untuk membesarkan 18 kg bibit sidat 50 - 60 g/ekor.
Peternak di Salabintana, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, itu memakai 12 hapa -
masing-masing berukuran 2 m x 1 m, terbuat dari waring - di kolam seluas 30 m2.
Dengan tingkat kelulusan hidup 80 - 90%, selang 6 bulan Budi memanen 30 kuintal sidat
isi 3 - 5 ekor/kg.

Teknik pembesaran sidat yang dilakukan Budi itu tergolong baru. Sampai kurun 1980 -
1990 sidat-sidat dibesarkan dalam bak-bak fiber memakai teknologi Aquaplan
Resirculation System dan Peter Hermes. Teknologi di ruang tertutup itu mengadopsi cara
pembesaran peternak sidat di eropa. Bibit yang ditebar adalah sidat eropa Anguilla
anguilla.

Sayang, aplikasi teknologi Eropa gagal. Besar kemungkinan karena teknologi itu tidak
sepenuhnya diterapkan. Terutama pada sistem resirkulasi yang berperan menjaga kualitas
air. Selain itu pemakaian bibit impor membutuhkan adaptasi lebih lama. Sebab itu pula
perkembangan budidaya sidat di tanahair lama vakum.

Titik terang
Pembesaran sidat mulai dilirik lagi pada 2000-an. Berbagai hasil penelitian teknik
budidaya sidat dari lembaga-lembaga perikanan di Indonesia menjadi pemicu.
Penggunaan sidat lokal pun berkembang. Ada 2 jenis sidat lokal yang dibudidayakan oleh
lembaga riset pemerintah: Anguilla bicolor bicolor dan Anguilla marmorata. Keuntungan
menggunakan sidat lokal tidak butuh adaptasi lama sehingga lebih produktif.

Idealnya budidaya sidat terintegrasi mulai dari pembenihan (ukuran glass eel bobot 0,3
g/ekor) hingga pembesaran. Untuk itu butuh biaya besar. Modal terbesar terutama pada
tahap pembenihan karena membutuhkan sistem resirkulasi yang baik. Sampai saat ini
bibit sidat diperoleh dari tangkapan alam dari Cilacap, Jawa Tengah, dan beberapa daerah
pesisir di Jawa Timur. Itu pun belum ada teknologi yang cukup aplikatif untuk diterapkan
peternak pada skala kecil.

Investor dan peternak dapat melirik teknologi hapa seperti dilakukan Budi. Pembesaran
memakai hapa membuat produktivitas sidat meningkat. Apalagi teknologi itu bisa
diaplikasikan pada lahan sempit sampai besar, mulai kolam tembok, kolam tanah, atau
langsung di karamba jaring apung (KJA). Namun bila KJA dipilih, mesti bersaing dengan
budidaya ikan konsumsi populer lain seperti mas dan nila yang banyak dipelihara di
waduk Cirata dan Jatiluhur, Jawa Barat.

Pemakaian hapa
Kolam bak atau tanah menjadi alternatif terbaik karena sebarannya lebih luas. Selain itu
tidak ada perbedaan produksi mencolok antara pembesaran di kolam dan KJA. Pada
kolam tanah atau tembok, hapa dibuat dari waring berukuran 2 m x 1 m. Di KJA ukuran
hapa bisa lebih besar, 3 m x 3 m. Untuk ukuran lahan 6 m x 6 m dapat dipasang 3 - 4
hapa. Yang terpenting padat tebar diatur 3 kg/m3.

Baik di kolam tanah atau KJA ketinggian air diatur 1 m. Air tidak boleh menutupi seluruh
hapa. Sisakan bagian atas yang bebas air 20 - 25 cm. Itu untuk mencegah sidat loncat
keluar dari kolam. Di dalam hapa ditaruh keranjang plastik. Posisi keranjang tenggelam
sedalam 10 - 15 cm. Itu untuk menaruh pakan.

Bibit menjadi faktor penting pembesaran sidat. Bila bibit yang dipakai berasal dari
tangkapan alam, perlu diadaptasi minimal selama seminggu di bak kontrol. Tujuan utama
untuk menyesuaikan terhadap pakan buatan. Setelah itu sidat dipindah ke dalam hapa.
Selama berada dalam hapa sidat diberi pakan berupa pelet slow sinking alias tenggelam
secara perlahan.

Ada 2 jenis ukuran pelet yang dipakai: 3 mm dan 5 mm. Pelet ukuran 3 mm berbentuk
butiran diberikan selama 2 - 3 bulan pertama. Selanjutnya sampai masa panen diberi pelet
ukuran 5 mm. Masing-masing pemberiannya 2 kali sehari - pagi dan sore. Dosisnya 3%
dari bobot tubuh per hari. Yang terpenting pelet itu mengandung 45 - 47% protein. Rasio
konversi pakan sidat memang tinggi sekitar 1:2 - 3 dengan laju pertumbuhan sekitar 1 -
1,1%.

Pemberian pakan tak boleh terlambat karena memicu kanibalisme. Sidat yang terluka
akibat diserang sesamanya mudah terinfeksi cendawan dan berujung kematian.
Kanibalisme juga timbul saat ukuran sidat tidak seragam. Sidat besar berpotensi
menyerang yang kecil. Karena itu perlu dilakukan sortasi setiap 1 - 2 bulan dengan cara
memakai ember berlubang sesuai ukuran yang ingin dipilah.

Oksigen terlarut
Membesarkan sidat di hapa juga perlu memperhatikan ketersediaan oksigen terlarut.
Kadar oksigen terlarut terkait erat dengan nafsu makan. Bila kadar oksigen terlarut
rendah, sidat malas makan dan pertumbuhan lambat. Pada kolam tanah pastikan air yang
masuk tidak mengandung partikel-partikel lumpur.
Sejatinya sidat berkembang baik pada kondisi air dengan oksigen terlarut 3 - 4 mg/l.
Produktivitas bakal melesat saat kandungan oksigen terlarut di atas 5 mg/l. Kadar oksigen
dapat ditingkatkan dengan memberi aerasi memakai hi-blow atau kincir.
Dasar kolam yang tidak tertutup hapa dapat dimanfaatkan dengan menebar ikan lain
berukuran kecil dengan sifat tidak mengaduk-aduk tanah. Nila salah satu pilihan pas
untuk dipolikultur bersama sidat. Orechromis niloticus juga membersihkan lumut yang
menempel di hapa. Dengan kombinasi pakan, sortasi, dan oksigen terlarut cukup, niscaya
tingkat kelulusan hidup sidat selama pembesaran bakal mencapai 0 - 90%. Angka itu
berlaku untuk kolam tanah dan KJA. Sejauh ini hapa menjadi alternatif untuk
pembesaran sidat. (Ade Sunarma, MSi, perekayasa di Balai Besar Pengembangan
Budidaya Air Tawar Sukabumi)

SUMBER: http://trubus-online.co.id/index.php/tulisan-lain/103-ikan-konsumsi/2878-sidat-besar-di-hapa.html

Friday, October 19, 2012

Cara Membuat Kolam Terpal Batako

Kolam terpal batako
Kawan-Kawan tentu sudah tidak asing lagi dengan kolam terpal. Kolam terpal adalah kolam yang dibuat di atas permukaan tanah baik digali atau tidak dan digelari terpal untuk menjaga air tetap berada di dalam kolam. Kolam terpal sudah banyak diaplikasikan untuk melakukan budidaya lele. Bahkan, di wilayah Pengasih, Kulon Progo, kolam terpal dipergunakan untuk membudidayakan ikan gurame.

Aplikasi kolam terpal di Pengasih, Kulon Progo, berhasil menyulap lahan yang tidak produktif dan tidak subur menjadi sentra budidaya ikan air tawar.

Kolam terpal di Kulon Progo dibuat dengan menggali tanah kemudian digelari terpal. Di tempat lain, kolam terpal dibuat di atas permukaan tanah dengan dibuat pagar penahan menggunakan bambu. Tentu saja masingmasing cara ada kekurangan dan kelebihannya. Tinggal kita mau memilih yang mana.
Kang Kombor ingin berbagi pengetahuan untuk membuat kolam terpal batako. 

Kolam terpal batako adalah kolam terpal yang dinding pagarnya dibuat dengan batako bersusun.

Cara Membuat Kolam Terpal Batako Ukuran 3 m x 4 m
  1. Siapkan batako sebanyak kurang lebih 250 buah
  2. Siapkan terpal ukurn 4 m x 5 m
  3. Ratakan permukaan tanah yang akan dibuat kolam terpal batako
  4. Ukur panjang dan lebar kolam yang akan dibuat. Panjang 4 m dan lebar 3m
  5. Susun batako diluar batas 3 m x 4 m yang telah ditandai. Batako disusun dengan cara ditidurkan sebanyak 4 tumpukan. Bagian sudut dibuat simpang susun agar kuat.
  6. Setelah kotak kolam batako selesai, pasang terpal yang sudah disiapkan. Tata terpal dengan rapi. Bagian ujung yang tersisa dilipat ke arah batako untuk ditindih lagi dengan batako.
  7. Isi terpal dengan air kira-kira 5 cm – 10 cm tingginya untuk membantu merapikan bagian pinggir bawah dan sudut-sudut kolam.
  8. Setelah terpal terpasang rapih, di atas lipatan terpal dipadang lagi batako untuk menjaga agar ikan tidak melompat.
  9. Isi kolam dengan air sampai sebatas terpal (4 tumpukan batako). Dengan cara ini, batas terpal dapat berfungsi sebagai lubang pembuang kelebihan air. Air yang berlebih akan keluar dari sela-sela batako yang ditumpuk persis di atas lipatan terpal. Dus, kita tidak perlu membuat lubang pembuangan air.
Nah, kini Kawan-Kawan sudah akan punya sebuah kolam terpal batako berukuran 3 m x 4 m. Kolam terpal batako itu dapat diisi lele atau gurame. Dapat dipergunakan untuk menambah penghasilan atau pun sekedar memelihara ikan untuk konsumsi sendiri.

Kelebihan kolam terpal batako ini adalah terpal menjadi lebih awet dan kolam lebih lama dipergunakan. Batako tentu lebih awet dari pada bambu kan? Selain itu, pinggiran kolam terpal batako pun dapat dijadikan tempat menaruh pot bunga. Pinggiran kolam di samping batako pun dapat diberi tanah dan ditanami tanaman hias atau rumput. 

Setiap kali kolam diisi penuh, kelebihan air akan menyirami tanaman di pinggir kolam. Apabila permukaan yang dibuat benar-benar rata (sebaiknya di-water pass) maka tanaman di seluruh pinggiran kolam akan rata tersirami. Untuk yang di atas ya tetap harus disiram apabila musim kemarau.

Oh ya, untuk gambar kolam terpal batako di atas, Kang Kombor membuat 2 kotak kolam ukuran 2 m x 3 m. Terpal yang dipakai adalah terpal ukuran 4 m x 6 m. Kang Kombor takut apabila kolam dibuat langsung ukuran 3 m x 5 m maka dinding susunan batako tidak akan kuat menahan beban tekanan air dan ambruk. Nanti bukan kita yang panen ikan melainkan para tetangga… 

sumber: http://www.kombor.com/2012/04/cara-membuat-kolam-terpal-batako.html

Thursday, October 18, 2012

Mengetahui Lebih Jauh Tentang Kolam Terpal

Fleksibel dan efisien adalah salah satu alasan banyaknya pembudidaya ikan air tawar menggunakan kolam terpal sebagai wadah budidayanya. Mengapa dikatakan fleksibel? Kolam terpal bereda dengan kolam permanen atau kolam yang menggunakan tembok, karena kolam terpal dapat dibangun dimana saja, serta yang membuat kolam terpal sangat fleksibel karena kolam terpal dapat dengan mudah dibongkar-pasang. Dikatakan efisien karena untuk membuat suatu kolam terpal tidak membutuhkan banyak biaya, hanya cukup membeli terpal, bambu atau kayu sebagai penyangganya, dan perlengkapan lainnya. Berbeda dengan pembuatan kolam permanen yang boleh dikatakan membutuhkan biaya lebih, apalagi saat ini harga semen sebagai bahan baku utama terus melonjak tajam.

Meski hanya berbahan terpal (palstik) tapi kekuatan kolam terpal sudah teruji, dan tak berlebihan jika dikatakan awet, karena kolam terpal sendiri mampu bertahan 1 – 2 tahun, tergantung kualitas bahan dan perawatan kolam sendiri. Hal yang merusak kolam biasanya karena terpapar matahari, sehingga terpal menjadi rapu, jika kolam tergenang air maka bisa bertahan lama. Selain itu hal yang perlu diperhatikan adalah gangguan serangga seperti semut merah dan lain sebagainya yang biasanya menggerogoti terpal pada bagian dasar kolam.

Kolam terpal ada berbagai jenis, diantaranya:

1. Kolam terpal di atas tanah
 Kolam terpal diatas tanah dibuat atau didirikan di atas tanah, dengan menggunakan kayu atau bambu sebagai pondasi, yang kemudian diselimuti kolam terpal.


2. Kolam terpal di bawah tanah
 Untuk kolam terpal di bawah tanah pada prinsipnya kolam biasa (konvensional) yang sudah jadi baik itu masih sebatas kolam tanah yang digali atau kolam tembok, kemudian dilapisi plastik terpal.

Kolam terpal di bawah tanah (Sumber gambar: carakawula.wordpress.com)
Demikian sedikit informasi tentang kolam terpal, semoga bermanfaat dan menambah wawasan anda. Untuk teknik pembuatan kolam terpal saya yakin anda pasti bisa!

Oleh: Gelar S Ramdhani
sumber: http://kamarkosan.wordpress.com/2012/02/06/mengetahui-lebih-jauh-tentang-kolam-terpal/

Cara Membuat Kolam Sidat

Ikan sidat mempunyai ketahanan hidup yang lebih kuat dibanding ikan yang lain, dan tentunya ini akan membuat budidaya ikan sidat semakin maksimal. Terlebih ikan ini tergolong mudah untuk di budidayakan.  Membudidayakan sidat untuk pembesaran dipekarangan rumah tidak sulit seperti memelihara ikan lele tapi bedanya sidat ada kekhususnya. Saya telah melihara ikan sidat dari berbagai ukuran dari fingerling 100 gram sampai elver  besar sekitar 200 gram.

Kolam sidat
1. kolam 2 x 7m x 0.7m (dilapisi plastik/terpal)
2. kedalam air 40 cm
3. Air mengalir diputar dengan pompa.
4. tambahkan oksigen.

Peralatan
1. filter air : batu zeloit, arang, bioball, spon filter, gentong filter (minimal harus ada filternya)
2. Mesin pompa air kolam
3.pompa udara 12 lubang
4. batu aerasi
5.selang udara

Pakan.
1. pelet ukuran 1 ml yang mengapung/tenggelam dan proteinnya diatas 40%
2. cacing tanah.
3. Udang Hidup
4. Kepiting Kecil

TIPS:
Pompa air selain sebagai filter gunakan untuk membuat air kolam bergerak, dan perkaya oksigen didalam air kolam dgn pompa udara. Dalam pemberian pakan pompa dimatikan agar pakan dapat berada disatu titik. Pemberian pakan minimal 3 kali sehari. Pemberian cacing tanah dapat di berikan minimal seminggu 3 kali. Pasti sidat-sidat anda akan sehat dan cepat besar. 

Sidat bisa bertahan dengan suhu ekstrim sangat dingin yaitu 80C atau suhu panas sampai dengan 320C, tetapi ada juga temperature yang ideal untuk sidat agar sidat bisa makan banyak/lahap dan tidak menganggu kesehatannya.
Temperatur air kolam 80C – 120C dikisaran suhu ini sidat tidak mau makan karena suhunya terlalu ekstrim untuk tubuh sidat.

Tempertur air kolam 130C – 170C dikisaran suhu ini sidat sudah mulai makan tapi Cuma sedikit dan tidak lahap sama sekali.
Temperatur air kolam 180C – 270C Dikisaran suhu inilah yang ideal untuk membesarkan sidat karena dishu ini ikan sidat akan makan sangat lahap dan tidak akan menganggu kesehatannya.

Temperatur air kolam 280C – 320C dikisaran suhu ini sebenarnya ikan sidat masih lahap makan tetapi beresiko terhadap kesehatan sidat dan biasanya pasti akan ada sidat yang mati.
Disamping masalah temperature atau  suhu air kolam ternyata tingkat keasaman (PH) kolam juga amat sangat berpengaruh bagi kesehatan sidat, berdasarkan pengalaman beliau di Taiwan untuk PH yang ideal untuk sidat berkisar antara 6,5 – 7,5.

Setiap orang pasti ingin mendapatkan hasil yang maksimal dari budidaya ikan sidat dikolamnya, nah kondisi lingkungan yang tidak mendukung dapat menyebabkan terjadinya stress pada ikan sidat, baik yang hidup di alam maupun di kolam budidaya. Perubahan lingkungan yang berada diluar batas toleransi ikan sidat dapat menimbulkan terjadinya gangguan pertumbuhan, reproduksi dan bahkan mengakibatkan kematian yang bersifat massal. 

Beberapa faktor lingkungan yang berpengaruh besar terhadap ikan sidat adalah kelarutan gas (oksigen dan karbondioksida), temperatur, salinitas dan parasit.

A. Gas-gas terlarut
Secara umum, ikan sidat lebih tahan terhadap konsentrasi oksigen yang rendah jika dibandingkan dengan jenis ikan lainnya (misal: ikan mas, ikan tawes, ikan nilem). Pada kondisi "apnoea", yaitu keadaan dimana otot-otot pernapasan dan alat pernapasan lainnya (insang, paru-paru) dalam kondisi istirahat, elver (benih sidat ) mampu bernapas selama 30 menit. Selama 30 menit tersebut, elver  hanya menggunakan oksigen yang tersimpan dalam darahnya, tanpa mengambil oksige dari luar. Kemampuan ini merupakan bukti bahwa ikan sidat mampu hidup dalam kondisi hipoxia (kekerangan oksigen). Selain itu, sidat juga mampu bernapas melalui kulitnya, meskipun tidak menyumbang oksigen yang tinggi.

Sidat berukuran 100g mampu mengatur dan mengkompensasi oksigen yang rendah, tetapi tidak tahan terhadap konsentrasi karbondioksida yang tinggi (hypercapnia). Daya tahan yang tinggi terhadap hypoxia pada sidat ukuran 100g diduga mengurangi daya tahannya terhadap hypercapnia. Sedangkan pada sidat berukuran 100-300g, kemampun bertahan pada kondisi hypoxia juga diimbangi dengan kemampuan bertahan dalam kondisi hypercapnia. Konsentrasi C02 yang tinggi pada air tawar kemungkinan disebabkan oleh aktivitas metabolisme mikroba dan pertukaran gas di permukaan air.

Oksigen terlarut (DO) pada malam hari akan menurun secara tajam di perairan eutrofik. Hal ini disebabkan terhentinya proses fotosintesis oleh fitoplankton atau kematian massal alga pasca terjadinya "blooming". Kombinasi antara temperatur air yang tinggi pada siang hari dengan oksigen terlarut yang rendah di malam hari dapat menyebabkan terjadinya kematian massal ikan sidat.

B. Kejenuhan gas
Kejenuhan gas yang terlalu tinggi (gas supersaturation) di perairan dapat mengakibatkan terjadinya penyakit gelembung gas (gas bubble disease). Perairan dengan kandungan gas super jenuh menyebabkan cairan dalam tubuh ikan mengalami hal yang sama, sehingga timbul gas (terutama N dan O2) dalam pembuluh darah dan jaringan tubuh dan menyebabkan "emboli". Emboli akan mengganggu transportasi oksigen, ikan akan mengalami hypoxia dan kerusakan jaringan, akibat lebih jauh akan menyebabkan kematian massal. Kondisi gas super jenuh di perairan dapat disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain:

pemanasan air pada kolam budidaya atau danau, fotosintesis berlebihan, tekanan udara rendah (biasa terjadi jika akan ada badai atau angin puting beliung) produksi gas O2, N dan metana akibat adanya aktivitas bakteri pemanasan oleh matahari dalam waktu yang lama dan angin dalam kondisi tenang (misalnya pada musim kemarau di daerah pengunungan/lembah)

C. De-stratifikasi Suhu
Stratifikasi suhu biasa terjadi pada perairan eutrofik dimana proses fotosintesis menghasilkan osigen terlarut yang tinggi di zona epilimnion, tetapi menyebabkan kondisi anaerob pada zona hypolimnion. Pada perairan dangkal, stratifikasi suhu terjadi pada siang hari. Pada malam hari akan terjadi de-stratifikasi suhu yang diakibatkan kehilangan panas di permukaan air. Dalam kondisi de-stratifikasi, air pada zona hypolimnion yang miskin O2 akan bercampur dengan air di zona epilimnion yang kaya oksigen. Proses percampuran ini mengakibatkan terjadinya penurunan konsentrasi O2 yang tajam dan dapat menyebabkan kematian massal ikan.

D. Temperatur/Suhu
Ikan sidat mempunyai toleransi yang tinggi terhadap suhu, daya toleransi terhadap suhu juga akan meningkat sejalan dengan bertambahnya ukuran tubuh ikan. Glass eel (larva sidat) spesies Anguilla australis mampu hidup pada suhu 28°C, elver 30,5-38,1°C dan sidat dewasa 39,7°C. Ikan sidat tropis (A. bicolor, A. marmorata) kemungkinan besar mempunyai toleransi terhadap suhu yang lebih tinggi dari A. australis.

Mucus atau lendir yang terdapat pada kulit ikan sidat memiliki zat anti bakteri yang sangat kuat, salah satunya adalah antibacteri kelompok protease seperti cathepsins L dan B. Suhu yang tinggi (30°C) dan rendah (10°C) dapat meningkatkansensitifitas ikan sidat terhadap bakteri cathepsin yang ditularkan melalui kulit. Kemampuan bertahan terhadap serangan bakteri dapat ditingkatkan melalui perlakuan suhu (thermal stress).

E. Salinitas (kadar garam dalam air)
Ikan sidat dalam beberapa stadia hidupnya akan melakukan adaptasi terhadap salinitas. Stadia glass eel (larva) lebih menyukai air laut dan bersifat osmoregulator kuat. Sedangkan elver (benih sidat) yang sudah mengalami pigmentasi penuh lebih menyukasi perairan tawar.

Salinitas media pemeliharaan juga mempengaruhi respon ikan sidat terhadap tekanan lingkungan. Glass eel A. anguilla yang dipelihara di air tawar dan mampu hidup 60 hari tanpa makan sedikitpun. Pada salinitas 10 dan 20 ppt, glass eel mampu berpuasa 37 dan 35 hari. Dengan demikian, salinitas mampu meningkatkan daya tahan glass eel terhadap kelangkaan makanan. Glass eel yang sedang ber-metamorfose ke stadia elver lebih tahan terhadap kelaparan jika berada di perairan tawar daripada periaran payau. Ketahanan terhadap kelaparan diduga berhubungan dengan kapasitas ikan sidat dalam melakukan proses osmoregulasi dan penurunan konsumsi energi untuk proses metabolisme.

F. Ammonia
Ammonia merupakan polutan yang masuk ke perairan melalui saluran limbah. Ammonia dalam keadaan tak ter-ionisasi NH3 lebih beracun bagi ikan. Daya toksik akan meningkat sebanding dengan peningkatan pH air. Konsentrasi NH3 pada pH yang sama akan meningkat sejalan dengan meningkatnya suhu. Selanjutanya, toksisitas NH3 akan meningkat jika kelarutan oksigen (DO) menurun. A. australis dan A. dieffenbachii mampu bertahan hidup pada perairan dengan kadar ammonia lebih dari 2mb/l.

sumber: http://indoenvinity.webnode.com/news/budidaya-sidat/

Wednesday, March 7, 2012

KOLAM ex BALIHO


Kolam dari Baliho
Kolam baliho merupakan kolam yang terbuat dari bahan baliho/terpaulin yang banyak digunakan untuk tenda. Kolam baliho biasa dipakai karena beberapa alasan diantaranya adalah untuk menghemat biaya, agar mudah dibongkar pasang, ada juga yang pusing gara2 sudah memiliki kolam2 semen tapi sering retak2 sehingga dipakailah kolam baliho, ada pula yg karena tidak ingin menggali tanah kemudian menggunakan kolam baliho dan masih banyak alasan2 lain. Kolam baliho hingga saat ini sudah banyak digunakan untuk berbagai keperluan seperti untuk budidaya ikan, lobster, belut, dsb. Dan karena harganya yang relative murah dan mudah pemasangannya sehingga banyak yang menggunakannya.

Sunday, February 26, 2012

Cara Membuat Kolam Sidat dari Terpal

Ikan sidat mempunyai ketahanan hidup yang lebih kuat dibanding ikan yang lain, dan tentunya ini akan membuat budidaya ikan sidat semakin maksimal. Terlebih ikan ini tergolong mudah untuk di budidayakan.  Membudidayakan sidat untuk pembesaran dipekarangan rumah tidak sulit seperti memelihara ikan lele tapi bedanya sidat ada kekhususnya. Saya telah melihara ikan sidat dari berbagai ukuran dari fingerling 100 gram sampai elver  besar sekitar 200 gram. 


Kolam sidat
1. kolam 2 x 7m x 0.7m (dilapisi plastik/terpal)
2. kedalam air 40 cm
3. Air mengalir diputar dengan pompa.
4. tambahkan oksigen.


Peralatan
1. filter air : batu zeloit, arang, bioball, spon filter, gentong filter (minimal harus ada filternya)
2. Mesin pompa air kolam
3.pompa udara 12 lubang
4. batu aerasi
5.selang udara

Pakan.
1. pelet ukuran 1 ml yang mengapung/tenggelam dan proteinnya diatas 40%
2. cacing tanah.
3. Udang Hidup
4. Kepiting Kecil

TIPS:
Pompa air selain sebagai filter gunakan untuk membuat air kolam bergerak, dan perkaya oksigen didalam air kolam dgn pompa udara. Dalam pemberian pakan pompa dimatikan agar pakan dapat berada disatu titik. Pemberian pakan minimal 3 kali sehari. Pemberian cacing tanah dapat di berikan minimal seminggu 3 kali. Pasti sidat-sidat anda akan sehat dan cepat besar. 
By. Sidat Kita

Hal yang Mempengaruhi Kolam Sidat

Setiap orang pasti ingin mendapatkan hasil yang maksimal dari budidaya ikan sidat dikolamnya, nah kondisi lingkungan yang tidak mendukung dapat menyebabkan terjadinya stress pada ikan sidat, baik yang hidup di alam maupun di kolam budidaya. Perubahan lingkungan yang berada diluar batas toleransi ikan sidat dapat menimbulkan terjadinya gangguan pertumbuhan, reproduksi dan bahkan mengakibatkan kematian yang bersifat massal. 

Beberapa faktor lingkungan yang
berpengaruh besar terhadap ikan sidat adalah kelarutan gas (oksigen dan karbondioksida), temperatur, salinitas dan parasit.

A. Gas-gas terlarut
Secara umum, ikan sidat lebih tahan terhadap konsentrasi oksigen yang rendah jika dibandingkan dengan jenis ikan lainnya (misal: ikan mas, ikan tawes, ikan nilem). Pada kondisi "apnoea", yaitu keadaan dimana otot-otot pernapasan dan alat pernapasan lainnya (insang, paru-paru) dalam kondisi istirahat, elver (benih sidat ) mampu bernapas selama 30 menit. Selama 30 menit tersebut, elver  hanya menggunakan oksigen yang tersimpan dalam darahnya, tanpa mengambil oksige dari luar.

Kemampuan ini merupakan bukti bahwa ikan sidat mampu hidup dalam kondisi hipoxia (kekerangan oksigen). Selain itu, sidat juga mampu bernapas melalui kulitnya, meskipun tidak menyumbang oksigen yang tinggi.
Sidat berukuran 100g mampu mengatur dan mengkompensasi oksigen yang rendah, tetapi tidak tahan terhadap konsentrasi karbondioksida yang tinggi (hypercapnia). Daya tahan yang tinggi terhadap hypoxia pada sidat ukuran 100g diduga mengurangi daya tahannya terhadap hypercapnia. Sedangkan pada sidat berukuran 100-300g, kemampun bertahan pada kondisi hypoxia juga diimbangi dengan kemampuan bertahan dalam kondisi hypercapnia. Konsentrasi C02 yang tinggi pada air tawar kemungkinan disebabkan oleh aktivitas metabolisme mikroba dan pertukaran gas di permukaan air.

Oksigen terlarut (DO) pada malam hari akan menurun secara tajam di perairan eutrofik. Hal ini disebabkan terhentinya proses fotosintesis oleh fitoplankton atau kematian massal alga pasca terjadinya "blooming". Kombinasi antara temperatur air yang tinggi pada siang hari dengan oksigen terlarut yang rendah di malam hari dapat menyebabkan terjadinya kematian massal ikan sidat.

B. Kejenuhan gas
Kejenuhan gas yang terlalu tinggi (gas supersaturation) di perairan dapat mengakibatkan terjadinya penyakit gelembung gas (gas bubble disease). Perairan dengan kandungan gas super jenuh menyebabkan cairan dalam tubuh ikan mengalami hal yang sama, sehingga timbul gas (terutama N dan O2) dalam pembuluh darah dan jaringan tubuh dan menyebabkan "emboli". Emboli akan mengganggu transportasi oksigen, ikan akan mengalami hypoxia dan kerusakan jaringan, akibat lebih jauh akan menyebabkan kematian massal. Kondisi gas super jenuh di perairan dapat disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain:

pemanasan air pada kolam budidaya atau danau, fotosintesis berlebihan, tekanan udara rendah (biasa terjadi jika akan ada badai atau angin puting beliung) produksi gas O2, N dan metana akibat adanya aktivitas bakteri pemanasan oleh matahari dalam waktu yang lama dan angin dalam kondisi tenang (misalnya pada musim kemarau di daerah pengunungan/lembah).

C. De-stratifikasi Suhu
Stratifikasi suhu biasa terjadi pada perairan eutrofik dimana proses fotosintesis menghasilkan osigen terlarut yang tinggi di zona epilimnion, tetapi menyebabkan kondisi anaerob pada zona hypolimnion. Pada perairan dangkal, stratifikasi suhu terjadi pada siang hari. Pada malam hari akan terjadi de-stratifikasi suhu yang diakibatkan kehilangan panas di permukaan air. Dalam kondisi de-stratifikasi, air pada zona hypolimnion yang miskin O2 akan bercampur dengan air di zona epilimnion yang kaya oksigen. Proses percampuran ini mengakibatkan terjadinya penurunan konsentrasi O2 yang tajam dan dapat menyebabkan kematian massal ikan.

D. Temperatur/Suhu
Ikan sidat mempunyai toleransi yang tinggi terhadap suhu, daya toleransi terhadap suhu juga akan meningkat sejalan dengan bertambahnya ukuran tubuh ikan. Glass eel (larva sidat) spesies Anguilla australis mampu hidup pada suhu 28°C, elver 30,5-38,1°C dan sidat dewasa 39,7°C. Ikan sidat tropis (A. bicolor, A. marmorata) kemungkinan besar mempunyai toleransi terhadap suhu yang lebih tinggi dari A. australis.

Mucus atau lendir yang terdapat pada kulit ikan sidat memiliki zat anti bakteri yang sangat kuat, salah satunya adalah antibacteri kelompok protease seperti cathepsins L dan B. Suhu yang tinggi (30°C) dan rendah (10°C) dapat meningkatkansensitifitas ikan sidat terhadap bakteri cathepsin yang ditularkan melalui kulit. Kemampuan bertahan terhadap serangan bakteri dapat ditingkatkan melalui perlakuan suhu (thermal stress).
E. Salinitas (kadar garam dalam air)
Ikan sidat dalam beberapa stadia hidupnya akan melakukan adaptasi terhadap salinitas. Stadia glass eel (larva) lebih menyukai air laut dan bersifat osmoregulator kuat. Sedangkan elver (benih sidat) yang sudah mengalami pigmentasi penuh lebih menyukasi perairan tawar.
Salinitas media pemeliharaan juga mempengaruhi respon ikan sidat terhadap tekanan lingkungan. Glass eel A. anguilla yang dipelihara di air tawar dan mampu hidup 60 hari tanpa makan sedikitpun. Pada salinitas 10 dan 20 ppt, glass eel mampu berpuasa 37 dan 35 hari. Dengan demikian, salinitas mampu meningkatkan daya tahan glass eel terhadap kelangkaan makanan. Glass eel yang sedang ber-metamorfose ke stadia elver lebih tahan terhadap kelaparan jika berada di perairan tawar daripada periaran payau. Ketahanan terhadap kelaparan diduga berhubungan dengan kapasitas ikan sidat dalam melakukan proses osmoregulasi dan penurunan konsumsi energi untuk proses metabolisme.
F. Ammonia
Ammonia merupakan polutan yang masuk ke perairan melalui saluran limbah. Ammonia dalam keadaan tak ter-ionisasi NH3 lebih beracun bagi ikan. Daya toksik akan meningkat sebanding dengan peningkatan pH air. Konsentrasi NH3 pada pH yang sama akan meningkat sejalan dengan meningkatnya suhu. Selanjutanya, toksisitas NH3 akan meningkat jika kelarutan oksigen (DO) menurun. A. australis dan A. dieffenbachii mampu bertahan hidup pada perairan dengan kadar ammonia lebih dari 2mb/l.
Sekedar berbagai ajapostingan ini diambil dari berbagai sumber, semoga bisa menambah pengalam buat kita semua terutama bagi yang ingin budidaya sidat.
By. Sidat Kita