Saturday, February 25, 2012

Yopie Yuliarso Pembudidaya yang Pantang Menyerah

Pak Yopie, pernah menyelesaikan sekolahnya di Jerman di bidang studi yang sangat jauh dari dunia perikanan yaitu elektro tehnik fachbereich technishe informatics Hamburg dan lulus pada tahun 1988, dengan berkecimpungnya didunia perikanan beliau menyebutnya hijrah dari high-tech ke mahluk-mahluk kecil.

Pada tahun 2008 Yopie Yuliarso pernah menggeluti pembesaran atau budidaya Kepiting Bakau di lokasi yang produktif yaitu Mojo dan Cepiring di Jawa Tengah, berawal dari pemekaran usahanya yaitu outlet kebab di Pekalongan, dimana pada waktu itu orang-orang disekeliling beliau bercerita tentang penanaman benih pepohonan jati, mangga termasuk bakau yang sangat erat hubungannya dengan ekosistem yang mengcover kepiting bakau, lalu mencoba googling dan ternyata menarik.

Karena tahu tidak ada benih dan seterusnya maka tim Yopie Yuliarso mulai mendata dimana benih yang akan didapatkan dengan banyak (memenuhi kebutuhan), bagaimana kontinuitasn
ya yang semuanya telah dilakoni tahap demi tahap dengan baik.

Masa-masa berproduksi yang bagus pernah dialami dengan panen yang setiap hari dilakukan dengan jumlah produksi antara 30-50 kg/hari dengan jumlah tanam isi 10-12 ekor benih per kg, berat 60-80 gr asumsinya kalau molting besar dan beratnya naik 30% dimana 1 porsi menu masak adalah 100 gram maka sempatlah Yopie dan timnya mengalami masa-masa keberhasilan. kemudian tambak-tambak wadah budidaya kepiting tersebut mengalami kebocoran terutama dari kepiting-kepiting muda terlebih mengalami kondisi riil bahwa benih-benih kepiting selalu kekurangan dan pasti akan kekurangan terus Yopie Yuliarso mengundurkan langkahnya. Tambak yang sudah disewa jadi menganggur, rakit terbuang percuma basket-basket yang sudah tersewapun tergeletak sedih.


Pantang putus asa pada tahun 2010 Yopie melakoni usaha ikan hias dengan memanfaatkan peralatan hatchery yang cukup lumayan, dengan bermain ikan tangkapan alam seperti botia, silver scat dan red scat. Menurut beliau bermain ikan tangkapan alam lebih sulit daripada ikan yang dapat dipijahkan dengan cara buatan seperti blackghost, Bosmani, Garrarufa yang berhasil dengan lumayan. Untuk komoditas hias yang dihasilkan produksinya dipasarkan kepada pengumpul dan exportir, pemasaran terbanyak adalah ke Singapore, Hongkong dan Eropa, bahkan hingga jazirah Arab.


Berbarengan dengan itu juga Yopie sambil melirik kepada komoditas ikan sidat, akan tetapi info penjualannya masih gelap, banyak yang menawarkan tapi tidak ada yang beli dan masih ragu dengan kondisi gelapnya benih/anakan sidat. Setelah kembali googling dan bertemu dengan pendekar-pendekar perikanan (dimana beliau menyebutnya demikian), ternyata ikan sidat menantang sekali dengan benih tangkapan alam, terlebih setelah melihat peta benih ikan sidat di alam Indonesia yang melimpah ruah, sehingga untuk menjaga agar glass eel (GE) tidak dilarikan keluar negeri maka perlu dilakukan pengetatan pintu-pintu keluar, nelayan penangkap diberi penyuluhan agar bisa membesarkan dari GE ke Elver atau paling tidak bisa menampung GE minimal selama 1 minggu. Untuk selanjutnya budidaya sidat dibuat segmentasi (selayaknya ikan gurami) agar pelaku budidaya tidak terlalu lama untuk mendapatkan hasil. Pada pemeliharaan GE anggaplah 1 bulan bisa mencapai 0,5-0,7 gram bulan ke-2 menjadi 1-3 gram dan bulan ke-3 bisa mencapai 5 gram up, demikian menurut Yopie Yuliarso. Harapan tingkat selanjutnya dari kegiatan yang dilakukannya ini Yopie menginginkan para pencari GE paling tidak bisa bisa menangkap dengan benar, merawat dengan benar dan mengepak dengan benar sebelum dikirim atau didistribusikan. Harapan selanjutnya beberapa dari mereka agar bisa bermain di budidaya pendederan sidat dimana setelah 3-4 bulan ada yang mengangkat hasilnya untuk budidaya pendederan elver ke fingerling. Untuk itu diperlukan bapak angkat.


Kemudian dengan hasil pencarian karena keingin tahuan dan semangat pantang menyerah Yopie menekuni komoditas ikan sidat dari sisi yang menarik, dimana beliau menyebutnya sambil menyelam trading Glass Eel (GE) dan fingerling, dengan diawali pendederan pada wadah akuarium disesuaikan dengan sarana ikan hias yang ada, untuk sementara proses pembesaran fingerling skala kecil masih dilakukan di akuarium. Hal ini sebagai teladan bagi para follower mengingat elver/fingerling tangkapan alam masih bagus, bersama berlangsungnya kegiatan pendederan yang diarahkan oleh Yopie maka akan didapatkan benih sidat yang besarannya hampir merata.


Sedangkan pada komoditas kepiting soka yang menjadi obsesinya, Yopie Yuliarso saat ini sedang menimba ilmu pada si Ratu Kepiting dari Makasar yaitu DR Ir Yushinta Fujaya, M.Si dosen Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan Universitas Hasanuddin Makassar. Bagaimana tidak, menurut Yopie profitnya jelas sekali sehingga semangat dan obsesi yang tak kunjung padam untuk mendapatkan kepiting-kepiting muda melalui Hatchery Skala Rumah Tangga (HSRT), dengan kenyataan Myanmar sudah mulai berhasil dan mendengar kabar baik dari Balai Jepara dan Takalar Yopie mulai mengumpulkan know how agar Pe eR-nya tidak terlalu besar. Menurut perhitungan Yopie seekor telur kepiting bakau bisa mencapai 2-8 juta, 1%-nya saja sudah mencapai 20.000 stadia crab yang hidup (asumsi dari larva 2 juta), kalau 20 pasang indukan saja apa tidak luar biasa jumlahnya (200.000crabblet). Maka jika dan hanya jika 20 HSRT saja sudah bisa beroperasi, akan berapa banyak kepiting muda yang berwara-wiri. Obsesi luar biasa yang bisa diusahakan menurut Yopie antara lain; pohonan bakau mau tidak mau harus ditanam, lahan-lahan yang mengganggur di Pantura bisa digarap, populasi Scylla serrata mulai bisa diatasi, banyak lapangan kerja berbagai variasi bisnis akan bisa dibuka (tumpangsari kepiting dengan ikan lain yang menyantap sisa pakannya), indukan kepiting diproduksi, penggemukan kepiting, kepiting telur, kepiting cangkang/kulit lunak (kepiting soka/lemburi), sampah cangkang kepiting untuk jadi tepung, bahan baku lem, garmis restoran, dan lain-lain. Semoga mimpi indah menjadi kenyataan. Selamat berjuang Yopie Yuliarso dan para pembudidaya di seluruh Indonesia. Semangat memang bukan segalanya tapi dengan semangat, kesuksesan bisa terjadi dan jalan menuju kesana semakin terang dan terbuka lebar. Berusaha dan berdoa adalah kuncinya. 


Profil Yopie Yuliarso :
Pendidikan :
1. SMA Negeri I Cirebon. 1974
2. FachHochSchule Hamburg Berliner Tor Technische Informatik, 1988

Pengalaman Budidaya :
- Pembudidaya Kepiting Soka, 2007-2009,
- Ikan hias & konsumsi,  2008-2010,
- Ikan Sidat, 2010- skrg

(Disadur dari Situs Dirjen Budidaya Perikanan)